Menggapai “Takdir dan Ketulusan Cinta”

Menggapai “Takdir dan Ketulusan Cinta”

SERANG, Skemarubrik.com | — Ungkapan “cinta bukan sekadar sembilan nyawa” menggambarkan bagaimana keteguhan hati seseorang mampu melampaui batas-batas logika. Ungkapan tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa cinta, dalam bentuk paling tulusnya, tidak hanya berbicara tentang ketahanan, tetapi juga tentang pengorbanan dan keteguhan yang tidak dapat diukur angka maupun waktu.

Perbincangan mengenai makna cinta yang “melampaui sembilan nyawa” r sepasang kekasih yang tetap saling setia meski diuji berbagai kesulitan ekonomi dan kesehatan. menggambarkan bahwa cinta dapat bertahan melewati tekanan hidup yang berulang, seolah-olah memberi “nyawa” baru setiap kali nyaris tumbang.

Menilai fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memaknai cinta sebagai kekuatan emosional yang mampu menggerakkan seseorang untuk bertahan, berjuang, dan berkorban. “Cinta itu tidak linear. Ia bisa runtuh, bangkit, dan berputar lagi. Itulah mengapa metafora ‘sembilan nyawa’ begitu kuat,” ujarnya.


Meski demikian, para psikolog mengingatkan bahwa cinta yang sehat tetap membutuhkan batas dan keseimbangan. Kesetiaan dan pengorbanan penting, namun tidak seharusnya berubah menjadi tekanan atau pembenaran atas rasa sakit yang berlebihan.

(Lies/Tim.Red)

Tinggalkan Balasan