SANG MATA-MATA DI BALIK KILAU PANGGUNG SANDIWARA

SANG MATA-MATA DI BALIK KILAU PANGGUNG SANDIWARA

Jakarta, Skemarubrik.com| — Nama Sofia WD selama dekade 1950-an hingga 1980-an identik dengan dunia sinematografi Indonesia. Namun, jauh sebelum ia dikenal sebagai sutradara wanita pertama atau aktris peraih Piala Citra, Sofia adalah seorang pejuang garis depan yang mempertaruhkan nyawa di medan gerilya. Di balik wajah ayunya yang menghiasi layar perak, tersimpan rekam jejak keberanian seorang agen intelijen berpangkat militer yang nyata.

DARI SANDIWARA KE MEDAN LAGA
Lahir di Bandung pada 12 Oktober 1924, Sofia (yang kemudian dikenal sebagai Sofia WD setelah menikah dengan Wagino Dachirin Mochtar) memulai karier seninya di dunia sandiwara. Namun, Proklamasi 17 Agustus 1945 mengubah jalan hidupnya. Semangat revolusi membawanya bergabung dengan kelompok pejuang di Bandung.

Tak sekadar menjadi penghibur tentara, Sofia masuk ke dalam struktur militer yang serius. Ia dan suami pertamanya, Edi Endang, direkrut oleh unit intelijen khusus bernama Field Preparation (FP) yang dibentuk oleh tokoh intelijen legendaris Indonesia, Kolonel Zulkifli Lubis.

AGEN INTELIJEN BERPANGKAT SERSAN MAYOR
Dalam tugas spionasenya, Sofia WD diberi pangkat Sersan Mayor, sementara suaminya berpangkat Kapten. Perannya sebagai aktris menjadi penyamaran yang sempurna. Melalui pertunjukan panggung, ia mampu masuk ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau untuk mengamati situasi lapangan, mengumpulkan informasi tentang pergerakan musuh, dan menggalang dukungan bagi Republik di wilayah-wilayah yang diduduki Belanda.

Keberaniannya diuji saat Agresi Militer Belanda memaksa unitnya mundur ke wilayah Garut. Di kaki Gunung Haruman, Sofia ikut bergerilya di tengah hutan, memanggul senjata di samping tugas utamanya sebagai mata-mata.

TRAGEDI YANG MENGAKHIRI KARIER MILITER
Jejak keberanian Sofia harus dibayar mahal dengan pengorbanan pribadi yang mendalam. Pada 23 Oktober 1947, saat sedang menjalankan tugas gerilya, suaminya, Edi Endang, diculik dan dibunuh oleh kelompok laskar Sabilillah di Kampung Bungur, Garut. Kehilangan pasangan hidup sekaligus rekan seperjuangannya ini menjadi titik balik bagi Sofia.

Setelah peristiwa tragis tersebut, Sofia memutuskan untuk mundur dari dunia militer dan kembali ke Bandung. Ia membawa luka perang tersebut ke dunia seni, tempat ia kemudian membangun dedikasi yang sama besarnya untuk bangsa melalui jalur budaya.

Pasca-perang, Sofia WD bertransformasi menjadi tokoh sentral perfilman nasional:

SUTRADARA PELOPOR: Ia menyutradarai film Badai Selatan (1960), yang menjadikannya salah satu sutradara wanita pertama di Indonesia.

KETUA PARFI: Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) periode 1971–1974.

AKTRIS TERBAIK: Meraih penghargaan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik pada FFI 1973 lewat film Mutiara dalam Lumpur.

Sofia WD wafat pada 23 Juli 1986 di Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam perang kemerdekaan, jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebuah tempat peristirahatan terakhir yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kontribusi luar biasa bagi negara. (Lies h)

Sumber Utama:
Profil Tokoh Sofia WD – Indonesian Film Center

Tinggalkan Balasan