Syaikh Nawawi Mandaya Carenang Serang Banten

Syaikh Nawawi Mandaya Carenang Serang Banten

SERANG, Skemarubrik.com| — Syaikh Nawawi bin Syaikh Muhamad Ali bin Akhmad bin Abu Bakar Lahir Di Mandaya Carenang Serang Banten, pada tahun 1295 H/1847 M.

Syaikh Muhammad Ali Ayahanda Syaikh Nawawi Mandaya adalah seorang ulama besar, yang dibuang Belanda ke Digul Papua. Nawawi Mandaya yang masih usia 6 tahun selalu turut serta.

Syaikh Muhammad Ali dan sejumlah ulama Banten lainnya seperti Syaikh Akhmad Towil/Ki Wasid, dibuang ke Digul oleh Belanda karena dianggap berbahaya. Para ulama inilah yang bersikeras menentang Kolonial. Selama di pembuangan para ulama ini disiksa oleh Belanda dan diberi tugas yang tidak masuk akal (Akal-akalan Belanda), tetapi yang namanya ulama yang berkaromah tugas dari Belanda sangatlah mudah. Seperti pada waktu itu Belanda meminta pohon yang condong ke sungai agar ditebang dengan syarat jangan sampai robohnya ke air. Dengan mudah Syaikh Muhammad Ali menyelesaikannya. Hanya dengan cara memegang daunnya menariknya ke darat.

Dalam perjalanan pulang ke Banten ketika sampai di NTB Syaikh Muhammad Ali singgah dan menetap hinga menikah dengan seorang wanita salihah dan mendapatkan keturunan yang sampai sekarang masih meneruskan ajarana Islam disana. Keramatnya pun di rawat dibangunkan quba untuk para peziarah.
6 tahun Istiqomah dan sebelum wafat beliau memanggil putranya Syaikh Nawawi Mandaya, lalu memberi 2 buah kitab yaitu Awamil dan Jurumiyah yang pada waktu itu belum disempurnakan dari lafadz maupun murod dan dijampilah Nawawi oleh ayahandanya.


Syaikh Ali meminta putranya pulang ke Banten, lalu ziarah ke ibundanya Siti Fatimah yang dimakankan Di Mekkah. Syech Nawawi pulang ditemani Ki Hasan Ba’du Khodim Syaikh Ali, seperti halnya Ki Bajang Waliyullah Ba’du Khodim Syaikh Nawawi Tanara.


Sesampainya di Banten Syech Nawawi kebingungan bagaimana menyempurnakan 2 kitab pemberian ayahnya. hingga pada akhirnya kitab tersebut direndam di sungai, seraya berkata “ya Allah kalau memang kitab-kitab ini akan membawa manfaat dan barokah bagi umat, maka kitab ini jangan hancur lebur”.

Akhirnya berangkatlah beliau ke pesantren, Diantaranya:
Bakung Gorda, Kenari Kesemen, Cangkudu Baros, dll. Di Cangkudu Baros mendapat jodoh putri angkat Abuya Siddiq, dan diiring pulang ke Mandaya untuk Istiqomah. membangun pondok pesantren.


Menurut riwayat Ponpes Mandaya adalah satu-satunya pondok yang mengkhatamkan Fathul Mu’in dan memadukan pelajaran 2 fan sekaligus, yaitu Fiqih dan Nahwu.
Hingga sempurnalah kitab Awamil dan Jurumiah tersebut secara keseluruhan lafadz maupun murod, dan diajarkan kepada santri sampai sekarang.


Para ulama yang mengaji mengaji ke Syaikh Nawawi Mandaya diantaranya:
Abuya Rasam (mertua) tokoh legendaris Fathul Mu’in,
Abuya Yusuf Caringin / Abah Ucu dan Abuya Mustaya Binuang, termasuk minantu tersayang KH. Wasi’ul Hasan Sohibu Warad Tariqot Qodiriyah guru Abuya Munfasir Padarincang Barugbug Serang Banten.

Dalam mengajarkan ilmu beliau penuh dengan Khowariqul Adat, karena disamping prilaku beliau semenjak kecil jarang tidur malam, jarang makan siang disamping itu pula beliau seorang putra ulama besar yang tersayang. Santri-santri beliau dalam satu riwayat santri bukan sekedar manusia biasa tapi bangsa Jin pun ada yang mengaku guru dan belajar kepada Syaikh Mandaya.

Beliau wafat pada tahun 1370 H/1949 M dan dikebumikan di Jln. Warung selikur Km.5 Kp. Mandaya Ds. Mandaya Kec. Carenang Kab. Serang Prov. Banten.**

(Rls/Tim-Red)

Tinggalkan Balasan