Gambar ini memperlihatkan kontras tajam pada Stasiun Menes, salah satu titik penting di jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan, Banten. (Foto: Dok
Pandeglang, Skemarubrik.com| — Pada bagian atas, kita melihat potret Masa Kolonial yang penuh wibawa. Para pejabat Belanda dengan setelan putih bersih dan topi pith melintas di peron yang rapi, didampingi prajurit dan warga lokal yang menjajakan makanan. Saat itu, stasiun ini adalah denyut nadi ekonomi yang menghubungkan hasil bumi Banten dengan dunia luar melalui rel besi.
Sebaliknya, foto bagian bawah menunjukkan Realita Masa Kini. Setelah jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1982, kemegahan bangunan Staatsspoorwegen tersebut memudar. Papan nama “MENES” yang dulu gagah kini kusam, dindingnya mengelupas, dan area peron berubah menjadi ruang domestik dengan jemuran pakaian serta perkakas warga. Rel yang dulu dilalui lokomotif uap kini sunyi, terkubur tanah dan semak belukar.
Foto di atas/cover bukan sekadar perbandingan fisik, melainkan pengingat tentang sejarah transportasi Indonesia yang pernah jaya namun perlahan tergerus zaman.***(RB)

