Jakarta, Skemarubrik.com | — Di tengah hiruk pikuk kekuasaan dan derasnya arus uang negara, ada satu sosok yang berdiri tegak di antara godaan duniawi Mar’ie Muhammad, sang menteri keuangan dengan hati bersih dan dompet yang selalu tipis. Lelaki jangkung berkacamata tebal ini tak hanya dikenal karena kemampuannya mengatur triliunan rupiah anggaran negara, tetapi juga karena hidupnya yang nyaris tanpa noda, penuh kesederhanaan, dan integritas yang tak tergoyahkan.
Sejak masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak pada dekade 1980-an hingga 1990-an, Mar’ie rutin berlari di lingkar luar Stadion Gelora Bung Karno, Senayan. Joging adalah cara khasnya mengusir stres dan menjaga kebugaran di tengah tekanan berat sebagai pejabat tinggi negara. Tiap sore, ia berbaur bersama masyarakat biasa tanpa pengawalan ketat, tanpa jarak, hanya seorang lelaki yang mencintai kesederhanaan.
Namun ada hal unik: Mar’ie hampir tak pernah membawa uang.
Usai berlari, ia sering menumpang teman hanya untuk membeli minuman dari pedagang asongan. Kadang ia berutang pada penjual teh botol di GBK utang kecil yang selalu ia lunasi, tapi kisahnya membekas dalam. “Bapak memang jarang sekali bawa uang. Mungkin ibu saya juga sering diutangi penjual teh botol di GBK,” ujar Rahmasari, putrinya, dalam peluncuran biografinya Mr. Clean Mar’ie Muhammad: Sang Pejuang Antikorupsi dan Aktivis Kemanusiaan.
Kebiasaan itu bukan sekali dua kali. Bahkan saat mencukur rambut, Mar’ie tetap tidak membawa uang. Setelah selesai, baru asistennya datang untuk membayar tukang cukur. Sifatnya bukan karena pelupa, melainkan cerminan prinsip hidup yang dalam ia menolak untuk bersentuhan langsung dengan uang, bahkan miliknya sendiri. “Seolah-olah beliau takut melihat uang di dekatnya,” kata sang istri, Ayu Resmawati.
Sebagai menteri yang memegang kendali atas keuangan negara, isi dompet Mar’ie nyaris selalu “cekak” tidak lebih dari Rp20.000. Tetapi justru dari situ pancar integritasnya: ia ingin membuktikan bahwa kekuasaan tak harus membuat seseorang serakah.
Fasilitas negara pun ia gunakan secukupnya. Mobil dinas tidak boleh dipakai keluarga, bahkan tak pernah parkir di garasi rumah. Begitu ia tiba di rumah, mobil harus kembali ke kantor. Karena penglihatannya kurang baik, ia pun bergantung pada sopir. Tak jarang ia menunggu lama karena tak punya uang untuk naik taksi dan tak punya ponsel untuk menghubungi siapa pun.
Prinsip hidupnya yang lurus juga ia tanamkan kepada keluarga. Ia menegaskan agar anak-anaknya tidak “menunjuk” barang yang mereka inginkan, sebab bisa disalahartikan sebagai tanda meminta. Saat Lebaran, rumahnya sering dibanjiri parsel. Namun jika ditemukan barang-barang mewah seperti jam tangan atau pulpen mahal, Mar’ie langsung memerintahkan untuk mengembalikannya kepada pengirim. Parsel yang berisi makanan? Ia sumbangkan kepada yang membutuhkan.
Ketika menjabat, Mar’ie Muhammad dikenal sebagai pembersih kementerian yang paling “basah” di republik ini Kementerian Keuangan. Ia menolak rancangan anggaran yang berlebihan, memotong biaya taktis, dan memperjuangkan efisiensi di setiap lini. Karena ketegasannya inilah ia dijuluki “Mr. Clean”, sosok yang menolak kompromi terhadap korupsi.
Media pada masa itu menyanjungnya. Bali Post menyebutnya sebagai sosok dengan “semangat Robin Hood” mengambil dari yang berlebih untuk diberikan kepada yang kekurangan. Bahkan, ia menjadi salah satu dari sedikit pejabat pajak yang menerima Bintang Maha Putra, penghargaan tinggi dari pemerintah atas jasa dan integritasnya.
Hingga akhir hayatnya, nama Mar’ie Muhammad tetap bersih sebersih nurani yang menolak melihat uang sebagai simbol kuasa. Ia wafat meninggalkan teladan yang langka, sebuah warisan moral di tengah dunia birokrasi yang sering diliputi kabut kepentingan.
Pada tahun 2017, namanya diabadikan sebagai nama gedung utama Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan sebuah penghormatan abadi bagi sosok yang menjadikan kejujuran sebagai napas pengabdian.
(Tim.Red)

