TANGERANG|Skemarubrik.com -– Pasar Anyar Tangerang membalik narasi klasik “pasar = sumber sampah” menjadi pusat inovasi sirkular. Melalui kolaborasi Unit Pengelola Pasar Anyar dengan Rumah Edukasi OC, limbah organik yang selama ini menumpuk kini diolah menjadi pakan ternak berprotein tinggi lewat budidaya maggot Black Soldier Fly [BSF] dengan teknik ring.
Langkah ini memangkas beban ke Tempat Pembuangan Akhir [TPA] sekaligus menjawab keluhan peternak yang terjepit harga pakan komersial yang mahal.
Dari 24 Ton ke 8 Ton Per Hari
Kepala Unit Pasar Anyar Achmad Junaidi menyebut dampaknya langsung terasa. Volume sampah yang dibuang ke TPA turun drastis dari 5-6 kontainer, atau sekitar 20-24 ton per hari, menjadi hanya 2 kontainer atau 8 ton.

“Sampah organik kami salurkan untuk budidaya maggot. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol dijual, hasilnya untuk kesejahteraan petugas kebersihan,” ujar Junaidi di Pasar Anyar, Jumat [15/05/2026].
300 Kg Sampah Hancur Semalam, Tanpa Bau
Inovasi ini menggunakan metode maggot teknik ring. Sampah sisa makanan dan sayuran yang dimasukkan sore hari sudah habis dilahap maggot keesokan paginya.
“Kami pakai maggot teknik ring. Tidak ada bau menyengat, tidak ada lendir. Jika kompos butuh 45 hari, di sini selesai dalam semalam,” jelas Hok Tjuan Wula Djana, pengelola Rumah Edukasi OC.
Saat ini tersedia 30 unit dengan kapasitas 7 kg per ember. Targetnya, dalam waktu dekat ditambah 60 unit sehingga total daya olah mencapai 300 kg sampah organik per hari. Satu kilogram maggot mampu mengonsumsi 3-4 kg sampah organik per hari.
Protein 58,6%, Harga Setengah Pasaran
Hasil panen maggot diolah menjadi pakan ikan, unggas, dan udang. Uji laboratorium menunjukkan kandungan protein mencapai 58,6%—setara pakan premium.
“Kami ajak peternak Tangerang datang langsung ke Pasar Anyar. Kami bisa suplai pakan berkualitas dengan harga hampir separuh harga komersial,” kata Hok Tjuan.
Dari Titik Masalah Menjadi Pusat Edukasi
Ke depan, lantai atas pasar akan dikembangkan menjadi pusat edukasi pertanian sekaligus urban farming.
“Kita tunjukkan, dari sumber masalah sampah, kita bisa hasilkan berkah sekaligus ketahanan pangan,” kata Junaidi.
(Daus/RB-Red)

