KOTA SERANG| SkemaRubrik.com — Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) se-Banten yang tergabung dari HMI Cabang Serang, HMI Cabang Pandeglang dan HMI Cabang, Lebak di depan kantor Kepolisian Daerah Banten berlangsung dalam skema suasana yang tertib dan kondusif. Demonstrasi yang mengangkat sejumlah kritik terhadap dinamika penegakan hukum di daerah tersebut justru memperlihatkan satu hal penting: ruang demokrasi di Banten tetap terbuka dan dijaga dengan pendekatan yang humanis.
Sejak awal aksi dimulai, aparat dari Kepolisian Daerah Banten tampak melakukan pengawalan secara persuasif tanpa tindakan represif. Massa mahasiswa diberikan ruang yang cukup untuk menyampaikan aspirasi mereka secara terbuka. Bahkan, aparat kepolisian turut memastikan jalannya aksi tetap tertib serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi demonstrasi.

Pendekatan pengamanan yang dilakukan menunjukkan bahwa kepolisian tidak memandang demonstrasi sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari skema dinamika demokrasi yang harus difasilitasi secara profesional.
Dalam aksi tersebut, perwakilan dari Kepolisian Daerah Banten juga hadir untuk menerima aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa. Kehadiran perwakilan kepolisian ini menjadi simbol bahwa institusi negara tidak menutup diri terhadap kritik, melainkan bersedia membuka ruang dialog dengan kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.
Situasi ini secara tidak langsung memperlihatkan bahwa kebebasan berpendapat di ruang publik tetap terjaga. Para aktivis mahasiswa dapat menyampaikan kritik, melakukan orasi, hingga membentangkan berbagai tuntutan tanpa adanya pembatasan yang bersifat represif.
Justru dalam konteks tersebut, publik dapat melihat bahwa praktik demokrasi di lapangan berjalan sebagaimana mestinya. Demonstrasi berlangsung, aspirasi disampaikan, dan aparat negara menjalankan tugas pengamanan secara profesional serta humanis.

Di sisi lain, keberhasilan pengamanan aksi ini juga menjadi pesan penting bahwa kritik terhadap institusi negara tidak selalu berujung pada konflik.
Dengan demikian, aksi yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam di depan Kepolisian Daerah Banten justru memperlihatkan satu skema realitas yang menarik, bahwa mahasiswa tetap memiliki ruang bebas untuk menyampaikan pendapat, sementara aparat kepolisian menunjukkan komitmen dalam menjaga kebebasan tersebut melalui pendekatan yang humanis dan profesional serta hal ini secara tidak langsung mematahkan tuntutan atas aksi dari HMI Se-Banten itu sendiri mengenai ruang bebas aktivis untuk bisa menyampaikan aspirasi tanpa intimidasi.
Pada akhirnya, dinamika seperti ini menjadi cerminan bahwa demokrasi tidak hanya hidup dalam wacana, tetapi juga terlihat nyata dalam praktik di lapangan. Selama ruang dialog tetap terbuka dan semua pihak menjaga kedewasaan dalam berdemokrasi, maka kritik, demonstrasi, dan pengawalan keamanan dapat berjalan berdampingan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.***(Tim-Red)

